Legalitas Yang di Pertanyakan, “Bukan Menolak Keberagaman” No ratings yet.

LUBUKLINGGAU, Panjinews.com – Aliansi mahasiswa dan pemuda lubuklinggau (AMPL) mendesak pihak kementerian agama kota Lubuklinggau, Forum komunikasi umat beragama (FKUB) dan dinas perizinan kota lubuklinggau, untuk segera mengusut dan menyelidiki tentang keberadaan Gereja Bethany Indonesia (GBI) Lubuklinggau, yang berada di Jl. A. Yani kelurahan Megang, Kecamatan Lubuklinggau Utara 2.

Ketua AMPL, Angga Juli Nastionsyah mengatakan pihaknya berani berbicara tentang GBI karena didukung adanya jejak digital, yang memang sulit untuk dihilangkan dan dikelabui.

Jejak digital, hasil searching goggle dan google maps.

“Saat kita berniat mengecek lokasi yang diduga menjadi aktivitas GBI, pada minggu (28/7) sekira pukul 8.00 pagi, tanpa sengaja saya melihat google maps dan saat saya mencari gereja dikata pencarian google maps. Tanpa sengaja saya melihat nama gereja GBI ada disana dengan alamat yang tak jauh dari posisi saya berdiri saat itu,” terang Angga.

Kondisi dibelakang gedung aula, yang diduga menjadi tempat adanya aktivitas GBI, ditemukan jalan setapak yang menuju kearah pemukiman warga di Jl. Nangka Lintas

Dilanjutkanya, sedari awal pihaknya telah curiga adanya aktivitas gereja di area yang dicurigai tersebut. Namun investigasi lanjutan ini memperkuat dugaan itu kalau diduga aktivitas gereja memang sudah lama ada dan terselubung.

“Tepat sekira pukul 11.00 setelah hampir 3 jam kita menunggu dan mengamati dari luar pagar, akhirnya kita memutuskan untuk masuk dan meninjau langsung. Namun ketika masuk semuanya sepi, sepertinya pantauan kita sia-sia hari ini, karena permasalahan ini sudah mencuat dalam sepekan terakhir. Selain melihat bentuk bangunan langsung, pihaknya juga mengelilingi bangunan tersebut hingga kebelakang. Dan ditemukan jalan setapak dibelakang bangunan, yang menuju ke arah pemukiman warga di jl nangka lintas,” paparnya.

Ditegaskanya, pihaknya tidak mempermasalahkan persoalan keberagaman umat dan tenggang rasa, yang disayangkan pihaknya kenapa harus sembunyi-sembunyi dan tidak memiliki izin serta mengantongi legalitas yang sah.

“Kita bukan menolak adanya pendirian gereja, tapi yang kita kecam itu peruntukan tempat yang diduga disalahgunakan dan tidak sesuai dengan izin semestinya, kalau memang mau beribadah dengan nyaman, harusnya pengelola dapat mengurusnya secara legal, kenapa mesti diam-diam seperti main kucing-kucingan. Karena kalau semuanya sudah legal kita dapat beribadah dengan tenang dibawah payung hukum dan Undang-undang,” pungkasnya. NSR

Please rate this

Recommended For You

error: