Kemenag Belum Keluarkan Rekomendasi Pendirian Gereja Karena Masih Ada Penolakan No ratings yet.

LUBUKLINGGAU, Panjinews.com – Santer pemberitaan terkait adanya dugaan aktivitas gereja terselubung di dalam kompleks sekolah kasih yobel yang beralamat di Jl. A Yani, kelurahan Megang, kecamatan Lubuklinggau utara 2. Kementerian agama (Kemenag) Lubuklinggau angkat bicara. Kasubag T.U kemenag Lubuklinggau, Sugihono saat dihubungi wartawan via ponsel, selasa (30/7) mengatakan kemenag belum mengeluarkan rekomendasi untuk pendirian gereja kristus yesus (GKY) karena masih ada penolakan dari warga sekitar.

Dijelaskanya, pihaknya tidak mengetahui adanya keberadaan gereja Bethany Indonesia (GBI) di alamat tersebut, yang diketahui pihaknya memang ada usulan yang masuk ke kemenag Lubuklinggau yakni untuk pendirian gereja kristus yesus (GKY). Namun rekomendasi untuk pendirian gereja tersebut belum dikeluarkan.

“Kita sudah membentuk tim verifikasi untuk gereja GKY ini, namun rekomendasi belum kita berikan, karena masih ada penolakan dari warga. Pengajuan itu baru masuk ke kita tahun ini juga, sekitar beberapa bulan yang lalu,” jelasnya.

Masih kata Sugihono, dalam berkas pengajuan yang di ajukan ke kemenag disana lengkap, sudah terlampir daftar jamaah yang akan beribadah disana, ada juga surat pernyataan dukungan dari warga, tapi itu semua dilakukan verifikasi oleh tim kemenag. Dan temuan tim dilapangan belum bisa memberikan rekomendasi untuk pendirian gereja disana.

“Disanakan sekolah kalau sampai ada aktivitas gereja yang sudah berjalan sebelum adanya izin, itu tidak boleh, bilamana terbukti adanya kegiatan peribadatan gereja maka pemerintah daerah yang akan memberikan sanksi,” terangnya.

Pada pemberitaan sebelumnya, Ketua AMPL, Angga Juli Nastionsyah mengatakan pihaknya berani berbicara tentang GBI karena didukung adanya jejak digital, yang memang sulit untuk dihilangkan dan dikelabui.

“Saat kita berniat mengecek lokasi yang diduga menjadi aktivitas GBI, pada minggu (28/7) sekira pukul 8.00 pagi, tanpa sengaja saya melihat google maps dan saat saya mencari gereja dikata pencarian google maps. Tanpa sengaja saya melihat nama gereja GBI ada disana dengan alamat yang tak jauh dari posisi saya berdiri saat itu,” terang Angga.

Dilanjutkanya, sedari awal pihaknya telah curiga adanya aktivitas gereja di area yang dicurigai tersebut. Namun investigasi lanjutan ini memperkuat dugaan itu kalau diduga aktivitas gereja memang sudah lama ada dan terselubung.

“Tepat sekira pukul 11.00 setelah hampir 3 jam kita menunggu dan mengamati dari luar pagar, akhirnya kita memutuskan untuk masuk dan meninjau langsung. Namun ketika masuk semuanya sepi, sepertinya pantauan kita sia-sia hari ini, karena permasalahan ini sudah mencuat dalam sepekan terakhir. Selain melihat bentuk bangunan langsung, pihaknya juga mengelilingi bangunan tersebut hingga kebelakang. Dan ditemukan jalan setapak dibelakang bangunan, yang menuju ke arah pemukiman warga di jl nangka lintas,” paparnya.

Ditegaskanya, pihaknya tidak mempermasalahkan persoalan keberagaman umat dan tenggang rasa, yang disayangkan pihaknya kenapa harus sembunyi-sembunyi dan tidak memiliki izin serta mengantongi legalitas yang sah.

Sementara itu, Kepala sekolah (Kepsek) kasih yobel, Fitri Ester. A Pasaribu, ditemui diruangan kerjanya didampingi salah seorang guru, Jemi Yori mengatakan kalau soal gereja itu pihaknya tidak tahu sama sekali. Karena aktivitas sekolah kan full day, senin hingga jum’at maka sabtu dan minggu tidak ada kegiatan lagi, bahkan pintu dikunci ketika tidak ada aktivitas sekolah.

“Kami ini hanya lembaga sekolah yang berbadan hukum. Kami tidak tau sangkut paut mengenai gereja, kalau sampe ada isu masyarakat adanya gereja, itu diluar tanggung jawab kami, aktivitas kami senin sampai jum’at itu sekolah, setahu kita sabtu dan minggu itu tidak ada kegiatan,” Kata Kepala Sekolah Dasar (SD) kasih yobel, jum’at (26/7)

Hal senada diungkapkan, Jemi Yori ketika ditanya apakah mengetahui soal adanya keberadaan gereja dilingkungan sekolah yang ia kelola, ia menjawab pihaknya tidak tahu.

“Kami ini sekolah untuk jenjang tk dan sd terkait adanya pemberitaan mengenai adanya penolakan adanya gereja, kami tidak tahu menau tentang itu yang kita tahu hanya kegiatan sekolah saja. Secara organisasi juga kita pihak sekolah tidak berhak menyelenggarakan kegiatan beribadah, karena beribadah itu yang berhak menyelenggarakanya yaitu gereja. Tapi kalau kegiatan pembelajaran agama, seperti keimanan dan karekter, sesuai kurikulum tentang keimanan itu memang ada,” jelasnya.

Masih kata sang guru, ketika ditanya apakah apa ada donatur lain selain yayasan yang mengelola aula (gedung yang dicurigai adanya aktivitas gereja) tersebut, jemi menjawab. “Wah kalo soal itu saya gak tau Mas. Saya taunya cuma ngajar,” singkatnya. NSR

Please rate this

Recommended For You

error: